Download lagu Ruang Jiwa oleh The Last Light Mp3 disertai lirik lagu di Stafaband. Download Gak Ribet dan CEPAT. Lagu Ruang Jiwa adalah album single.
| Artis | The Last Light |
| Judul | Ruang Jiwa |
| Album | Ruang Jiwa (Single) |
| Dirilis | 2025 |
| Album Tracks | Total 1 Tracks |
| Durasi | 06:13 |
| Audio Summary | MP3, 48 kHz |
Lirik Lagu
Kala itu di malam tak berbulan
Setelah sang raga direngkuh lelap
Aku sang jiwa berpindah jalan
Ke realitas tinggi di atas gelap
Kusapa jiwa-jiwa yang mampir sekadar rehat
Menyembuhkan
Lihat Semua Lirik
Lirik Lagu
Kala itu di malam tak berbulan
Setelah sang raga direngkuh lelap
Aku sang jiwa berpindah jalan
Ke realitas tinggi di atas gelap
Kusapa jiwa-jiwa yang mampir sekadar rehat
Menyembuhkan luka dari dunia yang acuh
Yang menangis atau membeku di sudut rahmat
Memandangi asa-asa redup yang kian menjauh
Aku lalu duduk di sebelah jiwa kelabu
Yang sedari tadi menatapku, diam membeku
Kusapa, "Ada apa, hai, Sahabatku?"
Dia jawab hanya dengan tatapan sendu
Ujarnya, "Dunia ini bukan untukku"
Aku hanya seonggok daging busuk
Bahagia telah lama tinggalkanku
Alangkah nikmatnya mati daripada dikutuk
Kupeluk dirinya yang beku itu
Entahlah, jika aku jadi kamu
Aku masih ingin nikmati kopi susu
Dan dengarkan lagu baru dalam bisu
Jiwa kelabu itu menghangat
Balas memelukku lebih erat
Matanya berbinar, pandangiku lekat-lekat
Tubuhnya bersinar, tersenyum lalu berkelebat
Aku hanya jiwa lelah yang rehat sejenak
Perjalananku masih panjang terbentang
Ruang ini hangat, tak pernah menolak
Tempat jiwa penat temukan asa di jalan bersimpang
Brug! Tubuhku ditabrak jiwa hijau merona
Yang mungkin sedari tadi tak mau bergeming
"Di mana pintu? Aku harus kembali!", serunya
"Aku belum matikan kompor, piring-piring masih miring"
Celetukku, "Oh, si kompor titip salam banyak"
Dia pensiun dari drama, dan minta dipercaya
Dan si piring mungkin lelah berdiri tegak
Dan sesekali ingin rebahan seperti tuannya
Tiba-tiba dia berhenti mondar-mandir
Matanya melotot, keningnya berkerut
Sekonyong-konyong tawanya meledak tanpa pikir
Dia ucapkan terima kasih, sambil bersungut
Dan di sudut sana, sesosok jiwa seperti membatu
Menangis di depan cermin, menutup wajahnya
"Aku gendut, aku jelek, aku benci diriku"
Dia menatapku, lalu balik menutup wajahnya
Tubuhnya ramping, kuning merona
Wajahnya elok rupawan, lalu ada apa?
Kubisiki, cermin ini mungkin hanya iri
Kau terlalu indah untuk bisa disesali
Senyum cemerlang tipisnya tersungging
Dan matanya mengatakan segalanya
Mungkin karena tak sadari, selama ini dia pusing
Bahwa dirinya cukup dan dia sangat berharga
Aku hanya jiwa lelah yang rehat sejenak
Perjalananku masih panjang terbentang
Ruang ini hangat, tak pernah menolak
Tempat jiwa penat temukan asa di jalan bersimpang
Dan ada satu jiwa coklat yang menghindar
Saat kutatapi matanya, dia membelakangi
Sedari tadi duduk sendiri di tepi pagar
Baru kutahu ada juga jiwa yang begini
Kudekati si jiwa coklat yang membelakangiku
Kurasa tak semua orang membicarakanmu
Dan lebih sedikit lagi yang tahu dirimu
Apa lagi peduli, semua orang sibuk selalu
Dia membalikkan badannya dan tersenyum
Dia ulurkan tangan, berterima kasih
Dia diam, dan seperti yang sudah maklum
Matanya mengatakan segalanya dalam lirih
Ada satu jiwa hitam yang sedari tadi mengamati
Matanya melihatku, namun tatapannya kosong
"Ada apa, Kawan?" Tanyaku lirih, mendekati
Dia hanya diam menunduk, menatapi lorong
Kurasa aku telah membunuh seseorang
Dan rasa bersalah ini kini membunuhku
Aku tercekat. "Kau yakin tanpa gamang?"
Dia menggeleng, wajahnya menatap sendu
Aku tak pernah rasakan sepertimu
Tapi kurasa itu mirip dengan cinta mantan
Meski sulit, akhirnya kuterima masa lalu
Kumaafkan diriku untuk lanjutkan perjalanan
Lalu kami diam. Hening ini menyelimuti
Tubuhku tiba-tiba dia peluk dengan erat
Air matanya tumpah, badannya bergetar tak henti
Katanya, "Terima kasih. Inilah awal, meskipun berat"
Aku hanya jiwa lelah yang rehat sejenak
Perjalananku masih panjang terbentang
Ruang ini hangat, tak pernah menolak
Tempat jiwa penat temukan asa di jalan bersimpang
Di saat yang lain beku dalam sunyi
Satu jiwa ungu berlarian tanpa henti
Dia berteriak dirinya galon nan suci
Dan bilang bisikan itu menggelayuti
Ingin kukasihani si jiwa ungu
Tapi aku pun tak kalah kelabu
Kau tahu? Kadang kumerasa orang lain itu dungu
Dan aku adalah jiwa terbaik yang bermutu
Namun sang waktu menampar jiwa merahku
Kusadari diri ini salah dan perlu berubah
Kudekati si jiwa malang berwarna ungu
Kupegang bahunya, kutatap matanya yang merah
Wahai Kawan, dengarkan aku
Kau masih manusia mulia
Bukalah hatimu, akui sakitmu
Dan carilah bantuan terpercaya
Dia berhenti berteriak, tak meronta
Raut wajahnya seolah penuh tanya
Namun akhirnya matanya berkaca
Air mata menggenang di sudut matanya
Aku hanya jiwa lelah yang rehat sejenak
Perjalananku masih panjang terbentang
Ruang ini hangat, tak pernah menolak
Tempat jiwa penat temukan asa di jalan bersimpang