Download lagu Jangan Cepat-Cepat Jadi Dewasa oleh The Last Light Mp3 disertai lirik lagu di Stafaband. Download Gak Ribet dan CEPAT. Lagu Jangan Cepat-Cepat Jadi Dewasa adalah album single.
| Artis | The Last Light |
| Judul | Jangan Cepat-Cepat Jadi Dewasa |
| Album | Jangan Cepat-Cepat Jadi Dewasa (Single) |
| Dirilis | 2026 |
| Album Tracks | Total 1 Tracks |
| Durasi | 07:17 |
| Audio Summary | MP3, 48 kHz |
Lirik Lagu
Sore ini mendung dengan gerimis meringis
Kuseruput kopi luwak jadul kesukaanku
Di kafe lejen ini, tempat ku pertama kali bertemu belahan hati
Yang kini sedang asyik mengunyah
Lihat Semua Lirik
Lirik Lagu
Sore ini mendung dengan gerimis meringis
Kuseruput kopi luwak jadul kesukaanku
Di kafe lejen ini, tempat ku pertama kali bertemu belahan hati
Yang kini sedang asyik mengunyah mie pedasnya di depanku
Oh, aku rindu degup jantungku yang berdangdut ria
Saat pandangan mata kami bertemu kala itu
Dan tersenyum canggung kepadanya
Dan oh Tuhan, dia balas senyumku dengan senyuman termanisnya
Dan kini kami mencuri waktu untuk sekadar berduaan
Si kecil sedang bersama neneknya, asyik bermain
Dan sudah terlalu lama kami tak kencan berdua
Seperti saat itu, saat segalanya masih terasa mudah
Tuhan, terima kasih sudah mengirimnya kepadaku
Bidadari tak bersayap, yang sempurnakan aku
Yang sudah tujuh tahun ini setia mendampingi
Kusyukuri kepingan surga yang jatuh ke bumi ini
Kupandangi istriku yang makin cantik di mataku
Masih sibuk mengelapkan tisu di mulutnya
Dan mengipas—ngipaskan tangannya, kepedasan
Dia sadar aku menatapnya, dan dia tersipu malu
Kami hanya diam, dan mata mengatakan segalanya
Aku tersenyum dan dia pun tersenyum kepadaku
Kugenggam tangannya, dan wajahnya merah bersemu
Semenit ini kami larut dalam cinta dewasa dan syukur pada—Nya
Namun tawa membahana membuyarkan nostalgia
Sepasang sejoli berseragam SMA cekikikan sambil berpelukan
Dua meja di kanan kami, yang gayanya mengalahkan pasutri
Sambil ber—selfie, seolah yang lain ngontrak di dunia ini
Tuhan, terima kasih sudah mengirimnya kepadaku
Bidadari tak bersayap, yang sempurnakan aku
Yang sudah tujuh tahun ini setia mendampingi
Kusyukuri kepingan surga yang jatuh ke bumi ini
Kami cuma saling pandang, nyaris tak percaya
Dengan pemandangan zaman now yang makin gila ini
Mereka masih asyik ber—selfie, dan mesranya mengalahkan kami
Aku memejamkan mata sambil menghela napas berat
Andai saja mereka tahu, bahwa menjadi dewasa itu
Tak seindah yang mereka bayangkan
Harus bayar tagihan listrik, air dan cicilan setiap bulan
Tak bisa tidur karena uang bulanan Ayah Ibu kurang
Harus pintar—pintar membagi keuangan
Di saat harga terus merokoket dan gaji jalan di tempat
Nelangsa di ujung malam, saat ada kebutuhan darurat
Atau saat keluarga besar meminta bantuan
Tuhan, terima kasih sudah mengirimnya kepadaku
Bidadari tak bersayap, yang sempurnakan aku
Yang selalu menguatkanku dalam tawa dan air mata
Yang telah menjadi ibu terbaik bagi anak—anakku
Tiba—tiba dia berdiri dan tersenyum kepadaku
Alisku terangkat dan dia letakkan telunjuk di bibirnya
Dia datangi mereka, dan dengan lembut dia ucapkan:
"Dek, jangan cepat—cepat ingin jadi dewasa..."
Lalu dia diam dan menyilangkan tangannya di depan dada
Menatap mereka sepuluh detik
Mereka terdiam sejenak, lalu minta maaf
Dan mereka pun berlalu dengan wajah memerah
Dia membalikkan badan, senyum manisnya terkembang
Rambut hitam panjangnya terurai diterpa angin
Dia ucapkan persis apa yang di pikiranku
Dan untuk itu, aku jatuh cinta lagi padanya untuk yang keseratus kalinya
Tuhan, terima kasih sudah mengirimnya kepadaku
Bidadari tak bersayap, yang sempurnakan aku
Yang sudah tujuh tahun ini setia mendampingi
Kusyukuri kepingan surga yang jatuh ke bumi ini