Download lagu Menyulam Kain Yang Rapuh oleh Tya Agustine Mp3 disertai lirik lagu di Stafaband. Download Gak Ribet dan CEPAT. Lagu Menyulam Kain Yang Rapuh adalah album O.M Palapa (Aku Yang Dulu Bukan Yang Sekarang).
| Artis | Tya Agustine |
| Judul | Menyulam Kain Yang Rapuh |
| Album | O.M Palapa (Aku Yang Dulu Bukan Yang Sekarang) (Album) |
| Dirilis | 2014 |
| Album Tracks | Total 10 Tracks |
| Durasi | 08:43 |
| Audio Summary | MP3, 48 kHz |
Lirik Lagu
Are you ready? Bersama Tya Agustine
Palapa pa, pa, pa, pa, pa, pa, pa, pa
Paijo sing ngendang, ha-ha-ha-ha-hah, ya Allah, ya Allah
Selamat malam
Kita goyang semuanya
Lihat Semua Lirik
Lirik Lagu
Are you ready? Bersama Tya Agustine
Palapa pa, pa, pa, pa, pa, pa, pa, pa
Paijo sing ngendang, ha-ha-ha-ha-hah, ya Allah, ya Allah
Selamat malam
Kita goyang semuanya yang di sebelah kiri
Ternyata luas yah, nyanyi bareng-bareng bisa?
Percuma, aah-aah
Percuma saja
Diriku menyulam
Kain yang rapuh
Mas bro, Mas broku goyang semuanya bersama Palapa
Ditunggu Ramayana, ada Toni Sucipto
Untuk apa aku menyulam kain yang rapuh?
Mengharap hujan jatuh di terik mentari
Engkaulah cawan yang terluka
Percuma harapkan isinya
Lautan pun aku tuangkan
Hausmu pun tak pernah sirna, oh-oh
Untuk apa aku menyulam kain yang rapuh?
Mengharap hujan jatuh di terik mentari
Kita goyang nyantai-nyantai semuanya bersama Palapa
Sebelah kanan kita goyang semuanya yah
Batu karang pun pecah karena badai
Apalagi hati rawan ini
Semut pun tak akan diam kau sakiti
Apalagi diriku ini
Sudah cukup maaf yang aku berikan
Namun tak jua menyadarkanmu
Bila tubuh semakin terbungkus nafsu
Hatimu pun semakin membatu
Kini biarlah aku yang mengalah
Agar engkau puas
Mengumbar nafsumu
Untuk apa aku menyulam kain yang rapuh?
Mengharap hujan jatuh di terik mentari
Engkaulah cawan yang terluka
Percuma harapkan isinya
Lautan pun aku tuangkan
Hausmu pun tak pernah sirna, oh-oh
Untuk apa aku menyulam kain yang rapuh?
Mengharap hujan jatuh di terik mentari
Goyang lagi bro, masih bersama Palapa
Ada Ramayana juga Cak Ndes
Asyik, asyik
Batu karang pun pecah karena badai
Apalagi hati rawan ini
Semut pun tak akan diam kau sakiti
Apalagi diriku ini
Sudah cukup maaf yang aku berikan
Namun tak jua menyadarkanmu
Bila tubuh semakin terbungkus nafsu
Hatimu pun semakin membatu
Kini biarlah aku yang mengalah
Agar engkau puas
Mengumbar nafsumu
Untuk apa aku menyulam kain yang rapuh?
Mengharap hujan jatuh di terik mentari
Engkaulah cawan yang terluka
Percuma harapkan isinya
Lautan pun aku tuangkan
Hausmu pun tak pernah sirna, oh-oh
Untuk apa aku menyulam kain yang rapuh?
Mengharap hujan jatuh di terik mentari